
Bagi banyak orang, Tugu Jogja hanyalah penanda kota yang sering jadi tempat berfoto. Tapi di balik bentuknya yang sederhana, Tugu menyimpan kisah mendalam tentang filsafat kehidupan orang Jawa — hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Sumbu Imajiner: Garis yang Menyatukan Alam dan Jiwa
Konon, Tugu Jogja terletak di atas garis lurus yang menghubungkan Gunung Merapi di utara, Keraton Yogyakarta di tengah, dan Laut Selatan (Pantai Parangtritis) di selatan. Garis ini terkenal dengan nama Sumbu Imajiner, atau poros sakral yang melambangkan perjalanan spiritual manusia:
- dari Merapi, simbol api dan kekuatan hidup,
- menuju Keraton, pusat keseimbangan batin,
- dan berakhir di Laut Selatan, simbol pelepasan ego dan ketenangan jiwa.
Bagi masyarakat Jawa, sumbu ini mengajarkan pentingnya ngerti sepi lan rame — memahami keseimbangan antara semangat dan ketenangan.
Mitos dan Sejarah Tugu Jogja
Tugu Jogja awalnya terkenal sebagai Tugu Golong Gilig, dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada abad ke-18. Bentuk aslinya bulat dan tinggi, melambangkan kesatuan antara raja dan rakyat (golong gilig berarti “menyatu tanpa sekat”).
Namun setelah gempa besar tahun 1867, Tugu runtuh dan dibangun ulang oleh pemerintah kolonial Belanda dengan bentuk seperti sekarang — persegi di bawah, silinder di atas, dengan hiasan tulisan Belanda. Meski bentuknya berubah, makna spiritualnya tetap hidup: pengingat agar manusia selalu selaras dengan alam dan Tuhannya.
Makna Sumbu Imajiner untuk Kehidupan Modern
Meski terdengar filosofis, sumbu imajiner bisa dimaknai secara sederhana dalam kehidupan kita sekarang. Garis itu mengajarkan bahwa keseimbangan bukan sekadar diam di tengah, tapi kemampuan untuk menyesuaikan diri — fokus saat bekerja, tenang saat beristirahat, dan sadar akan batas energi diri.
Di tengah ritme kota yang padat, banyak orang kehilangan “sumbu” dalam dirinya. Karena itu, banyak cara sederhana bisa Aidulur lakukan untuk memulihkan keseimbangan: dari berjalan kaki di sekitar Tugu saat pagi hari, hingga menikmati aroma menenangkan di rumah.
Menemukan Ketenangan di Dekat Tugu
Menariknya, tak jauh dari Tugu Jogja, sekitar 300 meter ke arah selatan, ada toko aromaterapi lokal bernama AiCARE THE LABEL. Aidulur bisa menemukan produk alami seperti Lava Lotion yang membantu relaksasi otot setelah berjalan jauh, atau Face Mist dengan aroma bunga yang lembut untuk menyegarkan pikiran.
Aroma lavender dan peppermint bisa membantu menyeimbangkan mood — seperti versi modern dari filosofi sumbu imajiner: menyatukan tubuh, pikiran, dan napas.
Tugu Jogja selalu menjadi titik awal dan akhir banyak perjalanan — baik wisatawan, pelari maraton, maupun warga yang mencari ketenangan. Ia berdiri di tengah poros yang menyatukan energi gunung dan lautan, sama seperti kita yang berusaha menyeimbangkan ambisi dan ketenangan batin.
Jadi saat Aidulur melewati Tugu Jogja, coba berhenti sejenak. Hirup udara pagi, rasakan angin yang lewat, dan biarkan diri menyatu dengan garis sakral yang sudah ada berabad-abad lamanya. Karena mungkin, keseimbangan itu tidak perlu dicari jauh-jauh — cukup dimulai dari napas dan aroma yang menenangkan.
Bawa pulang wangi Jogja dalam setiap tetes aromanya. Untuk informasi lengkap kunjungi AiCare The label dan hubungi admin kami. Intip produk kami di marketplace:
Instagram: aicare.idn
Shopee: aicarethelabel
TikTokshop: aicarethelabel
Tokopedia: aicarethelabel