
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, dua candi megah di Jawa Tengah—Candi Prambanan dan Candi Borobudur—tetap berdiri sebagai penanda keheningan. Banyak yang datang untuk berwisata, berfoto, atau sekadar menikmati matahari pagi. Namun di balik batu-batu yang sunyi itu, tersimpan cerita rakyat dan aroma tradisi yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan spiritual masyarakat Jawa.
Jejak Keheningan dalam Cerita Rakyat
Kisah Roro Jonggrang di Candi Prambanan bukan hanya tentang cinta dan kutukan. Dalam tradisi lisan Jawa, Roro Jonggrang sering digambarkan sebagai sosok perempuan yang menjalani laku tapa—sebuah praktik perenungan diri dan pengendalian batin. Saat batinnya gelisah, masyarakat Jawa zaman dahulu mempercayai ramuan alami dan wewangian sebagai penenang.
Asap dari kemenyan, bunga kenanga, dan minyak serai wangi sering dipakai untuk menenangkan hati sebelum berdoa atau bermeditasi.
Kebiasaan ini menunjukkan bagaimana aroma menjadi jembatan antara tubuh dan jiwa, antara manusia dan semesta. Dalam budaya Jawa, keheningan bukan sekadar diam—melainkan ruang untuk mendengarkan napas dan kembali pada diri.
Borobudur dan berdoa
Sementara itu, Candi Borobudur menyimpan kisah yang lebih sunyi. Relief-reliefnya menceritakan perjalanan spiritual manusia menuju pencerahan. Setiap undakan adalah simbol perjalanan batin, dan setiap langkah ke atas menjadi bentuk mindfulness kuno—menyadari diri di tengah alam.
Beberapa catatan arkeologis menunjukkan bahwa pada masa lampau, para peziarah menyiapkan bunga, dupa, dan minyak atsiri alami sebelum ritual di Borobudur. Aroma wangi dipercaya membantu menenangkan pikiran agar doa mengalir lebih tulus.
Dari sini kita melihat bahwa tradisi wewangian Nusantara bukan sekadar estetika, melainkan sarana untuk mencapai ketenangan dan kesadaran penuh.
Wewangian sebagai Warisan Perawatan Diri
Jika di masa lalu aroma bunga dan minyak alami digunakan untuk menyiapkan diri sebelum doa, maka hari ini kita bisa menemuinya dalam bentuk baru: aromaterapi. Aroma lavender, cendana, atau jeruk manis yang kita hirup saat beristirahat punya akar panjang dari praktik spiritual dan pengobatan tradisional Nusantara.
Dalam setiap tetes minyak, ada jejak masa lalu: tentang perempuan yang menumbuk rempah di pawon, tentang dupa yang menyala di altar, tentang keheningan yang pernah dijaga di antara dinding batu candi.
Menemukan Kembali Keheningan
Berjalan di sekitar Prambanan atau Borobudur di pagi hari masih memberi pengalaman serupa — udara lembap yang membawa wangi rerumputan, desir angin yang lembut, dan rasa tenteram yang jarang ditemukan di kota. Mungkin tanpa sadar, kita sedang mengulang ritual kecil dari para leluhur: meresapi aroma bumi dan belajar melambat.
Keheningan itu bukan sekadar suasana wisata, melainkan ruang batin — tempat kita menyadari bahwa keseimbangan, kedamaian, dan wewangian alami telah lama menjadi bagian dari perjalanan spiritual manusia di Nusantara.
Bawa pulang wangi Jogja dalam setiap tetes aromanya. Untuk informasi lengkap kunjungi AiCare The label dan hubungi admin kami. Intip produk kami di marketplace:
Instagram: aicare.idn
Shopee: aicarethelabel
TikTokshop: aicarethelabel
Tokopedia: aicarethelabel